oleh

Penambangan Pasir Kawasan GAK Terus Ditolak

Harianpilar.com, Lampung Selatan – Praktik penambangan pasir di daerah sekitaran Gunung Anak Krakatau (GAK) terus mendapat penolakan. Terbaru ratusan warga Rajabasa, Lampung Selatan mengumpulkan tanda tangan di Pelabuhan Canti, sebagai bentuk penolakan terhadap penambangan pasir itu, Senin (02/12/2019). Sementara, Komisi II DPRD Lampung terus mengawal aspirasi warga tersebut.

Aksi ini pun dikawal ketat petugas Polres dan Koramil setempat. Koordinator lapangan,Juhariansyah, mengatakan, aksi pembentangan kain putih bertajuk “Tolak Penambangan Pasir di Seputaran Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sebesi” itu bentuk keprihatinan warga atas semena-menanya Pemerintah Provinsi Lampung menerbitkan izin penambangan pasir, tanpa memperhitungkan dampak lingkungan, seperti longsornya Gunung Anak Krakatau, yang bisa memicu tsunami.

“Umumnya warga pantai Lampung Selatan, masih trauma atas tsunami yang menewaskan ratusan orang di daerah sekitar dan Banten pada 28 Desember yang lalu. ESDM Provinsi Lampung mengeluarkan izin hanya untuk kepentingan sebuah perusahaan,” tegas dia pada wartawan.

Diketahui, aksi tanda tangan menolak penambangan pasir di Kawasan Krakatau dan Pulau Sebesi itu, akan digelar juga di Kalianda.

Menindaklanjuti hasil pertemuan bersama pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung, Komisi II DPRD akan kembali mengundang lembaga pemerhati lingkungan dan masyarakat Pulau Sebesi untuk rapat dengar pendapat.

Dalam hal ini, dewan akan mempertanyakan sikap penolakan masyarakat dan pemerhati lingkungan terhadap izin pertambangan yang dimiliki PT LIP atau PT Lautan Indonesia Persada.

Ketua Komisi II DPRD Lampung, Wahrul Fauzi Silalahi, menilai, aksi demonstrasi dan galang petisi tolak tambang PT LIP merupakan akumulasi protes masyarakat sehingga layak untuk didengar dan diperjuangkan .

Bahkan Ketua Fraksi Partai Nasdem DPRD ini, bersama para koleganya berulang kali melontarkan statemen dan pertanyaan kritis hingga sensitif saat hearing berlangsung. (Tim/Maryadi)

Komentar