oleh

Usut Benih Jagung, Kejagung Diminta Turun ke Lampung

 Harianpilar.com, Bandarlampung – Kejaksaan Agung (Kejagung) yang saat ini sedang mengusut dugaan penyimpangan proyek bibit jagung milik Kementerian Pertanian (Kementan) yang dilaksanakan melalui Dinas Pertanian Nusa Tenggara Barat (NTB), juga diminta mengusut proyek benih jagung untuk wilayah Lampung tahun 2018. Sebab, bantuan benih jagung hibrida varietas umum 2 dan 3 tahun 2018 yang menelan anggaran hingga ratusan miliar itu terindikasi bermasalah.

Padahal, Kementan menggelontorkan anggaran sekitar Rp130 Miliar untuk bantuan benih jagung ini melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikulturan (DTPH) Provinsi Lampung. Untuk bantuan Budidaya Jagung Hibrida Varietas Umum 3 senilai Rp68, 3 Miliar diperuntukkan bagi 124.957 Ha lahan kelompok tani yang tersebar di Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Utara, Lampung Timur, Tulangbawang, Way Kanan, Pesawaran, Mesuji, Pringsewu, Pesisir Barat, Tulangbawang Barat, Metro, Tanggamus.

Kemudian, untuk bantuan Budidaya Jagung Hibrida Varietas Umum 2 senilai Rp44,5 Miliar yang diperuntukkan bagi 67.554 Ha lahan kelompok tani yang tersebar di daerah yang sama. Dan untuk bantuan Budidaya Jagung Hibrida Varietas Umum 2 dan Varietas Umum 3 senilai Rp25, 4 Miliar yang diperuntukkan bagi 45.000 Ha lahan kelompok tani.

“Jika benar ada sebagian petani enggan menanam benih jagung itu dan ada indikasi tidak sesuai dengan lahan untuk tanam. Maka patut diduga menyalahi Keputusan Dirjen Tanam Pangan No 28/HK.310/C/3/2018 tentang Juknis Pelaksanaan Kegiatan Jagung tahun 2018. Sebab, dalam Juknis disebutkan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) harus lebih dulu di verifikasi oleh kabupaten/kota dan provinsi yang membidang itu. Artinya sebelum disalurkan, sasarannya harus jelas dan tepat dulu,” ujar Tim Kerja institute on Corruption Studies (ICS), Apriza, saat dimintai tanggapnnya, Selasa (05/11/2019).

Menurutnya, persoalan ini sudah sepatutnya diusut oleh penegak hukum, bukan saja karena anggarannya besar tapi ini menyangkut sektor pertanian yang menjadi andalan pemerintah dan petani.”Kejagung yang sedang mengusut benih jagung di NTB sebaiknya juga turun ke Lampung. Akan kami siapkan laporan dan surat agar Kejagung mengusut masalah ini,” pungkasnya.

Sementara, Staf Bidang Pangan DTPH Lampung, Iwan, mengklaim bantuan benih jagung dari Kementrian Pertanian (Kementan) tersebut sedikit membutuhkan pupuk. “Kalau banyak (menggunakan) pupuk (nonorganik) itu salah. Justru, waktu kita turun ke lapangan saat panen raya dan kita wawancara para petani, mereka bilang justru pupuk organik yang mesti dibanyakin lagi,” ujarnya.

Dengan begitu, menurutnya hal tersebut sangatlah bagus. “Dengan perbanyak pupuk organik, maka program benih Litbang ini bisa dibilang berhasil,” ungkapnya.

Kendati demikian, Iwan tidak menampik program bantuan benih dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan yang digulirkan semenjak 2015 itu mendapat keluhan dari petani. “Soal keluhan, kita tidak menutup mata. Selalu ada keluhan dari petani. Terutama saat 2017. Tapi, saat ini keluhan yang masuk sudah mulai sedikit. Artinya disini kita sudah mulai selektif dalam memilih benih dari Litbang (pertanian),” sebutnya.

Iwan berharap pada tahun 2020 para petani sudah mulai menggunakan benih bantuan yang diprogramkan Kementan.”Sekarang yang terpenting adalah sosialisasi terkait program bantuan benih ini. Kedepan harapannya semua petani menggunakan benih bantuan ini,” harapnya.

Iwan juga mengklaim saat ini sudah banyak petani yang mengaku cocok menggunakan benih bantuan program dari Kementan.”Bisa dicek ke suatu kampung. Jika kita keliling banyak petani yang sudah cocok dengan benih bantuan ini. Katanya saya nggak pakai benih lain jika benih bantuan ini sudah dipasarkan bebas,” klaimnya.

Disinggung soal tidak dibedakannya pembagian benih bantuan mengingat demografi tiap kabupaten di Lampung berbeda, Iwan mengatakan, pihaknya tidak bisa melakukan hal tersebut. Karena kata dia, lokasi tidak masuk barometer dalam distribusi pembagian benih. “Yang penting masuk kategori normal. Normal disini artinya tercukupi air, unsur hara, dan iklim bagus,” kata dia.

Namun, keterangan Iwan ini justru berbanding terbalik dengan keterangan petani penerima benih jagung itu. Ketua Kelompok Tani Karya Maju 2 Metro, Saryono, justru menyatakan banyak bibit jagung dari pemerintah tahun 2018 yang tidak tertanam. Sebab bibit itu tidak sesuai dengan kebutuhan petani. “Saya terus terang saja ya mas, saya gak mau nutup-nutupin, banyak bibit yang tidak ditanam, dan itu sebagian masih ada di gudang. Sudah rusak kadaluarsa. Maunya pemerintah itu memberikan bibit ya yang sesuai kebutuhan petani bukan asal mau dia (pemerintah,red), asal bibit saja,” ujar Yono pada Harian Pilar, baru-baru ini.

Menurutnya, akibat pemberian benih yang tidak sesuai kebutuhan petani banyak bibit yang sia-sia.”Itu saya protes dulu, katanya bantuan bibit dari provinsi. Sia-sia itu uang rakyat. ” cetusnya.

Suryono berharap pemerintah memberikan bibit yang bagus meskipun tidak semua petani mendapat bantuan,”Ya sekalian kalau mau memberi bibit ya yang bagus sekalian. Kalau belum semua mendapatkan, ya digilir aja gpp,” ungkapnya.

Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Tulangbawang Barat, Yayit Zamhuri, mengatakan, memang terdapat penyaluran Bibit Jagung Hibrida di wilayah setempat tahun 2018. Namun, bibit yang disalurkan itu membutuhkan pupuk lebih banyak sehingga memerlukan biaya tinggi dan mempengaruhi hasil yang diperoleh petani. Selain itu bibit yang disalurkan juga tidak sesuai dengan kondisi lahan. Sehingga minat petani menurun.

“Bibit jagung Hibrida di Wilayah Kabupaten Tubaba tahun 2018 lalu untuk luasan tanam kurang lebih seluas 3.000 Hektare,” tutur Yayit.

Namun, jelasnya, terjadi penurunan minat petani di Tubaba terhadap bibit jagung itu. Hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan biaya tanam yang berdampak pada perbedaan hasil.”Bibit tersebut memerlukan pupuk yang lebih banyak dan kurang cocok dengan kondisi lahan tanam di Wilayah Tubaba,” terangnga. (BERITA SELENGKAPNYA BACA DI SURAT KABAR HARIAN PILAR EDISI RABU 6 NOVEMBER 2019). (Ramona/Tim)

Komentar