oleh

Proyek Kementerian PUPR di Tuba, Tubaba dan Mesuji. Sejumlah Item Rangka Baja ‘Tidak Lulus’ Uji Lab

Harianpilar.com, Tulangbawang –¬†Indikasi penggunaan profil rangka baja Non-SNI pada proyek rehabilitasi dan renovasi Sarana Prasarana Sekolah Kabupaten Mesuji, Tulangbawang, dan Tulangbawang Barat (Tubaba) tahun 2019 senilai Rp22,3 Miliar milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang dikerjakan PT. Asmi Hidayat ini semakin jelas. Sebab hasil uji laboratorium terhadap rangka baja yang digunakan menunjukkan terdapat beberapa item tidak lulus untuk standar SNI.

Dari dokumen hasil uji lab yang diperoleh Harian Pilar, diketahui dari hasil uji lab terhadap rangka baja dengan merek Sun Plus terdapat beberapa item dinyatakan tidak lulus uji. Sedangkan untuk suatu produk profil rangka baja ringan yang mendapatkan sertifikat SNI, haruslah lulus pada beberapa rangkaian materi yang diuji oleh tim pelaksana penguji dan kalibrasi.

Dari data hasil pengujian produk profil rangka baja ringan dengan merek Sun Plus disebutkan masa lapisan panduan alumunium seng pada poin (a) dua permukaan : rata-rata 3 titik, g/m hasil uji yang diperoleh 67,21. Sementara untuk mendapatkan syarat mutu SNI minimum 100, kemudian 1 titik g/m hasil uji yang diperoleh 58,53 dan syarat mutu SNI harus mendapatkan poin minimun 90. Sementara pada poin (B) satu permukaan 1 titik, g/m hasil uji yang diperoleh 29,27 minimum, untuk syarat mutu SNI minimal 40.

Kemudian pada poin lima sifat mekanis terdapat dua mata uji yang tidak lolos mutu SNI, diantaranya 1. batas ulur, N/mm hasil uji yang diperoleh 322 dan syarat minimum pada SNI 550, untuk poin 2 kuat tarik, N/mm hasil poin yang didapat pun dibawah hasil standar mutu yakni 379, sementara di data hasil Uji untuk syarat mutu SNI 8399-2017 mutu yang harus didapat minimum harus mendapatkan poin yakni 550.

Merujuk hasil uji lab ini patut diduga produk profil rangka baja ringan dengan merek sun plus maxi tidaklah lulus sertifikat SNI. Karana dari rangkaian uji lab yang dilakukan hanya sebagian saja yang lulus, sementara jika standartnya SNI harus memenuhi dan mengikuti standar mutu dari syarat mutu SNI 8399-2017.

Sedangkan Nomor SNI yang dicantumkan pada prifil rangka baja yang digunakan proyek Kementerian PUPR itu yakni no SNI 4096-2007, merupakan kode SNI salah satu bahan baku untuk pembuatan profil rangka baja ringan. Untuk nomor SNI profil rangka baja ringan yang telah bersertifikat itu sendiri seharusnya dengan Nomor SNI 8399-2017.

Dengan mengunakan profil rangka baja ringan yang diduga tidak memiliki sertifikat SNI ini mengindikasikan pengerjaan proyek itu telah mengabaikan Undang – undang No 2 tahun 2016 tentang Jasa Kontruksi, serta diduga tidak sesuai rencana belaja anggaran (RAB).

Penggunaan profil rangka baja ringan yang tidak SNI ini juga diduga kuat menyalahi Peraturan Menteri PUPR Nomor 22/PRT/M/2018 tentang Pedoman Pembangunan Bangunan Gedung Negar. Sebab, pada penjelasan Spesifikasi Komponen Bangunan Gedung Negara point (5.) tentang Struktur Atap, huruf (d.) Tentang Struktur rangka atap baja dijelaskan sambungan yang digunakan pada rangka atap baja baik berupa baut, paku keling, atau las listrik harus memenuhi ketentuan pada SNI tata cara perencanaan struktur baja untuk bangunan gedung. Rangka atap baja harus dilapis dengan pelapis anti korosi. Mutu bahan dan kekuatan bahan yang digunakan harus sesuai dengan ketentuan SNI rangka atap baja. Bahkan, pada huruf (e.) secara jelas menyebutkan Struktur rangka atap baja ringan mutu bahan dan kekuatan bahan yang digunakan harus sesuai dengan ketentuan SNI rangka atap baja ringan.

Begitu juga bahan penutup atap diatur pada huruf (d) bagian (i.) menjelaskan bahan penutup atap bangunan gedung negara harus memenuhi ketentuan yang diatur dalam SNI yang berlaku tentang bahan penutup atap, baik berupa atap beton, genteng, metal, fibrecement, calsium board, sirap, seng, aluminium, maupun asbes atau asbes gelombang. Pada (ii.) Juga disebutkan bahan kerangka penutup atap digunakan bahan yang memenuhi SNI.

Selain itu terindikasi menyalahi berbagai aturan itu, penggunaan rangka baja yang tidak SNI ini juga berpotensi menimbulkan kerugian Negara. Sebab selisih harga yang sangat jauh. Harga pemasangan jenis profil rangka baja ringan dan atap genteng metal polos dipasaran hanya Rp125 ribu/M2, sementara bahan baku canal baja yang bersertifikat SNI harganya Rp220 ribu sampai dengan Rp 240 robu/M2.”Selisihnya memang jauh. Tergantung jarak tempuhnya,” terang pemilik toko rangka baja di Kabupaten Tulangbawang yang enggan disebutkan namanya, baru-baru ini. (BERITA SELENGKAPNYA BACA DI SURAT KABAR HARIAN PILAR EDISI KAMIS 31 OKTOBER 2019)

Komentar