oleh

Dendi Janji Selesikan Polemik Tanah Adat Sai Batin

Harianpilar.com, Pesawaran – Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona berjanji akan menyelesikan permasalahan tanah adat milik adat Sai Batin di Rawa Kijing, Desa Sindang Garut, Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran.

Ditegaskannya, Pemda Pesawaran telah membentuk tim khusus dengan di SK kan langsung olehnya (Dendi-red), guna menuntaskan permasalahan tanah adat yang berada diareal Rawa Kijing tersebut.

“Secara administrasi saya selaku bupati tentunya mendukung. Dan kita akan selesaikan secara adat budaya Lampung dengan musyawarah dan mufakat. Dan untuk itu kiranya harus bersabar supaya tidak menimbulkan persoalan baru,” janji Dendi saat menerima audensi Ketua Ajang Sai Batin, Selasa 10/09/2019).

Sementara diketahui, untuk ketua Tim penanganan permasalahan tanah adat Rawa Kijing ini dibawah komando Asisten II Pemkab Pesawaran, Munzir Zen. Dibantu oleh Kabag Tata Pemerintahan, Kabag Pemdes Kaban PMD dan Bidang Pertanahan PU Perkim Pesawaran.

Polemik tanah adat makhga Way Lima, Kabupaten Pesawaran yang terletak di Rawa Kijing, Desa Sindang Garut, Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran terus mencuat.

Dengan berbekal bukti yang cukup,10 Bandakh dan Pengurus Ajang Sai Batin meminta Bupati bersikap tegas dan secepatnya turun tangan terkait permasalahan tanah adat yang saat ini masih dikuasai oleh masyarakat Desa Rawa Kijing.

Melalui Ketua Ajang Sai Batin, Paduka Firman Rusli saat audensi bersama Bupati Pesawaran, Selasa 10/09/2019), menyatakan, bahwa lahan Pesawahan dan juga dataran tanah yang di sekitaran derah Rawa Kijing, Desa Sindang Garut merupakan aset dan kekayaan mutlak kebandakhan Makhga adat 4 Way Lima.

“Bicara harta kekayaan adat, disebut Makhga Way Lima ini dari Suka Agung, Bulok sampai pada Sukamarga Penengahan, Gedongtataan.

“Kami para penyimbang adat tahu betul jika wilayah Rawa Kijing tersebut diantaranya aset kekayaan adat kebandkhan Makhga Way Lima yang tidak pernah diperjual belikan sebelumnya,” ungkap Ketua Ajang Sai Batin Pesawaran, Paduka Firman Rusli, saat udensi bersama Bupati Pesawaran, Selasa (10/09/2019).

Diceritakannya, pada tahun 1926 wilayah Rawa Kijing tersebut sempat direncanakan akan dibuatkan sebuah check dam. Namun oleh pihak kebandakhan adat tidak memperbolehkannya. Namun entah mengapa, menyusul kemudian, muncul surat sporadik kepemilikan tanah adat yang menyatakan jika lahan adat sebatin tersebut saat ini milik dari masyarakat desa setempat, dengan kata lain diluar kepemilikan masyarakat adat Makhga Way Lima.

“Masalahnya muncul setelah di tahun 2010/2011 lalu tanah adat yang di Rawa Kijing tersebut dibuatkan surat sporadik oleh oknum. Yang mana sebelumnya mereka (masyarakat Rawa Kijing)  hanya tumpang sari dilahan tersebut, dan itu diakui mereka. Ya kita juga berharap masalah tanah adat ini segera terselesaikan dengan musyawarah mufakat. Dan  kami juga tidak akan ambil semua kok. Tapi kalau sudah naik ke pengadilan, secara tegas saya katakan, bahwa kami tidak akan berikan dan membagi tanah adat ini meski sejengkal,” tukas Firman,  seraya menyerahkan bukti akan surat tanah adat kebandakhan Makhga Way Lima yang berada di Rawa Kijing Desa Sindang Garut-Waylima kepada Bupati Pesawaran. (Fahmi/Maryadi).

Komentar

News Feed