Selain Dinas PUPR, Proyek Diskoperindag Mesuji Juga Sarat Penyimpangan

Harianpilar.com, Bandarlampung –  Bukan hanya di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Mesuji saja yang sarat masalah, proyek di Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Mesuji juga terindikasi sarat permainan. Penyebab tender bernilai proyek Diskoperindag Mesuji tahun 2018 dihargai miliaran terindikasi sarat penyimpangan.

Aroma persekongkolan tender proyek itu terlihat mulai dari harga penawaran yang sangat menarik Harga Perkiraan Sendiri (HPS) hingga peserta yang mengumpulkan sama hanya bergantian menjadi pemenang. Seperti tender proyek pengadaan konstuksi / pembelian bangunan Pasar Panca Warna dan Pasar Tanjung Mas Makmur yang masing-masing HPS-nya Rp1.189 Miliar yang dimenangkan oleh satu perusahaan yaitu CV. Firdaus Jaya Abadi (FJA). CV. FJA memenangkan tender dua proyek itu dengan penawaran sama masing-masing Rp1.179.256.000 hanya turun Rp9,8 juta atau 0,8 persen dari HPS.

Indikasi persekongkolan dalam tender juga terlihat pada tender dua proyek lainnya yaitu pengadaan konstruksi / pembelian bangunan Pasar Fajar Baru dengan HPS Rp1.189.130.000 dimenangkan CV. Jaya Selamannya dengan penawaran Rp1.175.179.000 hanya turun Rp13,9 juta atau 1,1 persen dari HPS. Kemudian, pengadaan konstruksi / pembelian bangunan Pasar Margojaya dengan HPS Rp1.189.130.000 dimenangkan CV. Agung Jaya dengan penawaran Rp1.178.367.000 hanya turun Rp10 juta atau 0,9 persen dari HPS.

Indikasi tender kurung proyek-proyek ini lebih terlihat dari peserta tender yang juga berpartisipasi sama hanya berganti menjadi pemenang yaitu
CV.Bumi Bakti Mesuji, CV. Jaya Selama, CV. Tineba, CV. Agung Jaya, PT. Asri Fariz Jaya, CV. Nabalga, CV. Brantas Satu, dan PT. Willy Putra Agung.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Mesuji, Sobirin, saat diperdagangkan mempertimbangkan mengehindar. Saat dihubungi melalui ponselnya, Sobirin enggan menjawab pertanyaan yang diajukan dengan alasan sedang dalam perjalannya. Saat melewati melalui pesan singkat ke ponselnya, juga tidak dijawab.

Tim Kerja Intitute on Corruption Studies (ICS), Apriza, mengatakan, tender pengadaan barang dan jasa pemerintah sudah diatur secara rinci dalam perpres pengadaan barang dan jasa, termasuk soal indikator persekongkolan dalam tender. Tidak sulit untuk mempelajari apakah ada proyek tender yang ada persekongkolan atau tidak.

“Beberapa indikator persekongkolan dalam tender yang ditawarkan nilai besar.” HPS, peserta yang sama dan berganti menjadi pemenang, ada yang membahas dokumen teknis dan yang lainnya. , “ungkapnya saat dimintai tanggapannya, Selasa (05/01/2019).

Menurutnya, jika penawaran pemenang tender pertanggungan kurang dari 1 persen dari HPS, maka peserta tender kontribusi sama dan berganti menjadi pemenang maka sangat pantas jika di curigai ada persekongkolan. “Yang menjadi pertanyaannya juga, mengapa Unit Layanan Pengadaan (ULP) -nya tidak diminta tender jika ditemukan demikian, karena perpres itu mengamanatkan jika ditemukan indikator persekongkolan itu panitia lelang harus diganti. Jika diteruskan maka harus dipertanyakan juga sikap panitian itu, “pungkasnya. (Maryadi)

Header Banner Advertisement
Bagikan berita ini:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *