Teror ke Pimpinan KPK Tindakan BIADAB

Anggota DPR RI Erwin Moeslimin Singajuru

Harianpilar.com, Bandarlampung – Aksi teror yang diduga bom molotov di kediaman para pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dinilai sebagai tindakan biadab. Selain itu dilakukan terhadap pimpinan lembaga yang sangat dipercaya rakyat, juga dilakukan di tahun politik yang berpotensi menimbulkan kegaduhan.

Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Erwin Moeslimin Singajuru, mengatakan, kepolisian harus segera mengungkap kasus teror tersebut. Sehingga bisa diketahui siapa pelaku dan apa motifnya, jika masalah itu tidak di ungkap maka berpotensi di politisir pihak-pihak tertentu.

“Kita sangat mengecam tindakan itu, KPK itu adalah lembaga yang sangat di percaya rakyat sehingga ketika KPK di ganggu maka akan menimbulkan reaksi dari rakyat. Ini juga dilakukan di tahun politik sehingga bisa menimbulkan kegaduahan dan bisa ditunggangi pihak-pihak tertentu untuk mengambil keuntungan secara politik,” tegasnya.

Kepolisian, lanjutnya, harus segera mengungkap kasus itu seterang-terangnya sehingga tidak menimbulkan saling curiga antar anak bangsa.”Kapolri dan jajarannya harus memberikan perhatian penuh terhadap masalah ini. Jangan dibiarkan masalah ini mengambang begitu saja,” pungkasnya.

Tim Kerja Institute on Corruption Studies (ICS), Apriza, menilai aksi teror terhadap sejumlah Pimpinan KPK itu sebagai tindakan biadab.”Teror terhadap pimpinan KPK itu sangat biadab. Itu sangat mencederai hati rakyat dan mencederai upaya perang terhadap korupsi,” tegasnya.

Menurutnya, perang terhadap korupsi tidak boleh kalah dengan aksi teror tersebut. KPK harus memompa semangat untuk terus memerangi korupsi, karena rakyat selalu berada di belakang KPK.”Itu tindakan pengecut, KPK tidak boleh kalah dengan aksis teror seperti itu. Kita akan galang solidaritas rakyat untuk mendesak kepolisian mengusut masalah itu,” ungkapnya.

Pihaknya berharap semua pihak menahan diri dan tidak menggunakan masalah teror terhadap pimpinan KPK itu sebagai alat politik untuk saling serang.”Kita himbau semua pihak tidak menggunakan masalah teror itu sebagai alat saling serang secara politik, karena ini tahun politik,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Rumah Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif diteror benda diduga bom molotov. “Jadi untuk kejadian pada pagi hari ini ada insiden di kediaman Agus dan Laode. Kejadian tersebut benar terjadi,” kata Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo saat memberikan keterangan di Mabes Polri, seperti di lansir CNNIndonesia, Rabu (09/01/2019).

Dia menerangkan penyidik dari Polda Metro Jaya dengan bantuan dari Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri sudah diterjunkan ke lapangan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengumpulkan barang bukti.

“Patut diduga bom molotov tapi masih didalami. Bahan peledak tersebut ditemukan di halaman rumah,” katanya.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan bom molotov yang disimpan orang tak dikenal ke rumah pimpinan lembaga antirasuah itu berjumlah dua buah. “Ada dua botol isinya bahan bakar,” kata Argo saat dikonfirmasi pada Rabu siang, 9 Januari 2019.

Pernyataan Argo ini senada dengan keterangan seorang warga setempat, Anita, 39 tahun. Ia yang tinggal tak jauh dari rumah Laode, mengatakan sempat mendengar pecahan kaca diikuti letupan pada tengah malam tadi. Saat pagi hari, ia melihat tembok rumah Laode di sisi kanan dekat halaman telah hangus. Ada bekas terbakar pada tembok itu.

Selain di rumah Laode, rumah Ketua KPK Agus Rahardjo di Jatiasih, Kota Bekasi juga mengalami teror bom. Berbeda dengan di rumah Laode, di rumah Agus ditemukan bom rakitan. Benda tersebut pertama kali ditemukan dalam bungkusan tas warna hitam. Bom itu pun digantungkan di pagar.

Benda tersebut pertama kali ditemukan oleh pengawal Ketua KPK, Ajun Inspektur Dua Sulaeman pada pukul 05.30 WIB. Sulaeman melihat tas warna hitam ini digantung di depan rumah Agus saat ia membuka pintu gerbang. Sulaeman kemudian memeriksa tas dan menemuka bom di dalamnya. Selanjutnya, Sulaeman membawa benda ini dan menjinakkannya dengan cara melepaskan baterai dan detonator yang berfungsi memicu ledakan. (Maryadi)

Header Banner Advertisement
Bagikan berita ini:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *