FKIP Unila Gelar Pelatihan Psikologi Anak di Daerah Bencana

FKIP Unila mengadakan Pelatihan Dukungan Psikologi Penyintas Anak di Daerah Bencana

Harianpilar.com, Bandarlampung –  FKIP Unila menyelenggarakan pelatihan psikologi penyintas anak di daerah bencana. Acara ini diprakarsai oleh FKIP dengan Dekan Prof. Dr. Patuan Radja, M.Pd. bersama Himpsi Lampung dengan ketua Dra. Renyep P, Psikolog, dan Ratna Widiastuti, MA, Psikolog sebagai ketua pelaksana, Rabu (09/01/2019).

Pelatihan ini menghadirkan pemateri Dra. Yeti Widiati, Psikolog dari lembaga Paradigma sekaligus pelatih perencanaan bantuan psikososial di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).

Menurut ketua pelaksana Ratna Widiastuti, MA, Psikolog, tujuan kegiatan ini memberikan ilmu atau beragam terapi yang dapat digunakan oleh relawan dalam mendukung psikologis penyintas anak di daerah bencana.

Terapi dalam psikososial pertolongan pertama (PFA) atau bantuan psikologis pertama yang diperlukan akan mendukung usaha “bertahan” di masa pemulihan (pemulihan).

Acara ini diikuti oleh 44 peserta terdiri dari civitas akademika Prodi Bimbingan Konseling Universitas Lampung, PG Paud Universitas Lampung, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Lampung, Prodi Psikologi Universitas Islam Negeri Raden Intan, Prodi Psikologi Universitas Malahayati, Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Provinsi Lampung dan tidak masyarakat lainnya.

Materi yang disampaikan adalah konsep evaluasi dalam bencana, pengenalan korban termasuk karakteristik dan kategori korban, insiden stres manajemen kritis dalam kebencanaan, konflik bencana, trauma dan penanganan krisis, P3K psikologis (atau dikenal sebagai psychososial first aid (PFA).

Dilatihkan beberapa tindakan-tindakan yang harus dilakukan di dalam PFA; seperti perlindungan diri pada relawan, psikodrama, terapi seni, gerakan mata, debriefing, dissosiasi, terapi paparan naratif dan teknik-teknik lain yang bermanfaat untuk membantu penyintas mengatasi masalah psikologis serta meningkatkan kembali dan membawa kembali.

Salah satu teknik di dalam terapi seni misalnya dengan mengundang peserta melakukan stimulasi melalui kegiatan menggambar. Gambar terdiri dari dua hal yaitu yang tidak menyenangkan dan gambar yang membuat menyenangkan dan terasa nyaman.

Salah satu peserta pelatihan Naqiyyah Syam perwakilan Puspa Lampung sangat senang mendapat ilmu dalam mendampingi psikologi anak di daerah bencana ini.

“Jika trauma pribadi ikut terpicu saat membantu penyintas, maka para relawan disarankan untuk melakukan penyembuhan diri sendiri” ujar Yeti Widiati. Tidak menutup suka bagi relawan untuk memiliki transisi negatif. Kondisi lapangan juga akan membuat relawan mudah terpicu logat

Fakta di lapangan setelah bencana, sebagian besar memang diberikan kepada penyintas, sebagian besar bantuan logistik. Namun setelah berlalu, bantuan itu akan “pergi”, sementara penyintas harus bertahan hidup di lokasi bencana.

“Mereka harus mendukung untuk bertahan hidup dan kuat untuk mengatasi masalah psikologis. Disinilah peran relawan dukungan psikologis akan membantu penyintas agar kembali “kuat” untuk menyelesaikan masalah psikologis, ”pungkas Ratna Widiastuti. (Mar/Lis)

Header Banner Advertisement
Bagikan berita ini:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *