oleh

Ridho : Harian Pilar Sangat Tajam, Tapi Dibutuhkan

Harianpilar.com, Bandarlampung – Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo menilai pemberitaan Surat Kabar Harian Pilar selama ini memang sangat tajam. Namun, pemberitaan seperti itu memang dibutuhkan oleh pemerintah dan aparatur sebagai kontrol dan koreksi, sehingga tidak ada yang gagah-gagahan.

Hal itu disampaikan Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo saat menyampaikan sambutan dalam acaraMalamPuncak HUT Ke-6 Surat Kabar Harian Pilar yang berlangsung di balleroom hotel Horison Bandarlampung, Jum’at (21/12/2018) malam. Malam puncah HUT Harian Pilar ini diisi beberapa rangkaian acaranya diantaranya pemberian penghargaan dan launching buku Potret KKN di Daerah yang ditulis pimpinan umum Surat Kabar Harian Pilar Mico Periyandho.

“Saya tahu betul Harian Pilar ini sangat kritis pemberitaannya, bahkankan diformalkan menjadi taglinenya yakni Faktul Berimbang dan Kritis. Kadang kita dibuat kaget dengan berita-berita Harian Pilar, sangat-sangat tajam, tapi itu memang penting dan di perlukan sebagai kontrol dan koreksi bagi aparatur maupun pemerintah, sehingga tidak ada yang gagah-gagahan,” ungkapnya.

Menurutnya, daerah memiliki pengalaman dipimpin oleh orang yang gagah-gagahan dan itu tidak bermanfaat apa-apa bagi kemajuan daerah. Namun jangan sampai juga daerah ada ketakutan sehingga tidak melakukan apa-apa.”Karena ada fenomena juga dimana daerah merasa takut sehingga tidak melakukan apa-apa,” ungkapnya.

Ridho menjelaskan,pemerintah sangat membutuhkan pers dalam melakukan pembangunan, selain sebagai saluran menyampaikan informasi pembangunan kepada masyarakat juga sebagai kontrol.”Jadi catatan khusus saya juga Karo Humas dan Protokol Pemprov juga mendapat penghargaan, itu sesuai dengan progres mereka selama ini yang saya pacu terus,” terangnya.

Sementara, Pimpinan Umum Harian Pilar, Mico Periyandho, mengatakan, Harian Pilar selalu berupaya menyajikan informasi yang faktual dan berimbang, serta memenuhi kaidah jurnalistik.”Berita Harian Pilar itu memang selalu tajam, tapi sangat jarang menyangkut individu seseorang tapi yang dikritik selaku sistem atau program. Bahkan untuk keberimbangan kita tak jarang melakukan konformasi dengan berbagai cara mulai dari wawancara langsung, melalui telepon bahkan konfirmasi melalui surat. Sering kita harus menunda menurunkan berita demi menunggu klarifikasi dari pihak-pihak terkait,” terangnya.

Meski dikenal sebagai media dengan berita yang kritis,jelasnya, sejatinya jumlah berita yang bersifat mengkritik selalu lebih sedikit jumlahnya.”Berita yang kritis itu jumlahnya kecil, setiap hari itu paling hanya satu atau dua berita, sisanya pasti pemberitaan biasa-biasa saja bahkan menginformasikan pembangunan yang dilakukan pemeritah.(Maryadi)

Komentar