Alamat Perusahaan Pelaksana Proyek ‘Bobrok’ DKP Lampung Diduga Fiktif

Breakwater- Proyek pemecah ombak (Brealwater) di PPP Labuhan Maringgai milik DKP Provinsi Lampung yang diduga tidak sesuai ketentuan. Terlihat pemasangan material batu yang tidak rapat dan di tutupi dengan tanah. Kuat dugaan volume proyek ini tidak sesuai RAB.

Harianpilar.com, Bandarlampung – Persoalan proyek pembangunan Breakwater (pemecah ombak) PPP Labuhan Maringgai tahun 2017 milik Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung semakin terkuak. Alamat PT. Kayla Jaya Abadi perusahaan pelaksanaan proyek bobrok itu diduga kuat fiktif.

Dari penelusuran Harian Pilar, PT. Kayla Jaya Abadi beralamat di Jalan Hi.AbdulMuis Tuan Ria No.53 Langkapura – Bandar Lampung (Kota) – Lampung. Saat Harian Pilar mengecek di Kantor Kelurahan Langkapura ternyata tidak ada surat-surat perizinan atau kelengkapan perusahaan itu yang terdaftar di Kelurahan Langkapura Baru, dan tidak di temukan ada Kantor Perusahaan itu. “Kalau disekitar sini tidak ada perusaahaan yang berdiri,”ungkap sumber yang mewanti-wanti agar namanya tidak di tulis, Selasa(16/10/2018).

Namun, lanjutnya, alamat jalan H. Abdul Muis No.53 kelurahan Langkapura Baru Kecamatan Langkapura Bandarlampung memang ada. Namun, alamat itu merupakan rumah tempat tinggal atau rumah hunian bukan kantor perusahaan. “Selama 3 tahun disini baru sekali saya ketemu yang punya rumah, orangnya besar tinggi kalau nggak salah Herwan namanya,” tukasnya.

Kemudian, Harian Pilar mendatangi alamat tersebut dan bertemu salah satu penghuni rumah itu. Namun, perempuan yang merupakan istri pemilik rumah itu mengaku tidak mengetahui jika rumahnya merupakan alamat perusahaan. Dan di lokasirumah itu tidak di temukan plang atau papan nama perusahaan itu,”Gimana ya saya kurang paham, saya cuma ibu rumah tangga yang tugasnya rumah warung pasar aja taunya,” terangnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DKP Provinsi Lampung, Toga Muhaji, hingga berita ini di turunkan belum berhasil dikonfirmasi. Saat hendak di konfirmasi di kantornya, Toga tidak berada di tempat.Sementara, Imam, yang yang membidangi proyek itu juga tidak berada dikantornya.”Pak Kadis gak ada. Kepala Bidang proyek itu pak Imam, juga tidak ada,” ujar salah satu staf TU DKP Lampung.

Diberitakan sebelumnya, Proyek pembangunan Breakwater (pemecah ombak) PPP Labuhan Maringgai tahun 2017 yang menghabiskan anggaran sekitar Rp3 Miliar diduga kuat sarat penyimpangan. ‘Kebobrokan’ proyek milik Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung itu terlihat dari pemasangan batu yang diduga volumenya tidak sesuai ketentuan dan bercampur tanah.

Dari penelusuran Harian Pilar, proyek yang dikerjakan PT. Kalya Jaya Abadi senilai Rp3 Miliar ini kondisinya sangat memprihatinkan. Kuat dugaan pengerjaan proyek ini tidak sesuai dengan volume yang ada di dalam Rencana Belanja Anggaran (RAB).

Sebab, pemasangan batu pada lapisan pelindung utama (main armor layer) tidak rapat atau jaraknya jauh sehingga terdapat ronggo-ronggo besar, dan ditemukan ronggo-ronggo itu ditutupi menggunakan tanah. Bahkan, pada lapisan inti dan lapisan bawah pertama pemecah ombak ini juga diduga kuat dikerjakan tidak sesuai ketentuan, sebab terlihat pada bagian itu materialnya sudah berantakan.

Kekuatan pemecah ombak ini pun sangat meragukan. Sebab susunan batu-batunya sudah banyak yang berubah akibat pemasangannya yang diduga tidak sesuai ketentuan, sehingga material-material batu itu tidak berkesinambungan dan mudah berubah saat diterjang ombak. Seluruh bagian pemecah ombak ini temukan banyak tanah yang diduga kuat untuk menutupi ronggo-ronggo akibat pemasangan batu yang tidak rapat itu. Namun, tanah-tanah itu sudah mulai terbawa air sehingga ronggo-ronggonya terlihat.

“Ini tahun 2017 mas di bangunnya, tapi gak tau berapa biayanya. Pemasangan batu-batu besar itu memang dari awal seperti itu, jarang-jarang jadi begitu kayak ada lubang-lubang di antara batu-batu itu,” ujar Sudirma, warga yang ditemui di lokasi proyek itu, baru-baru ini.

Menurutnya, susunan batu-batu itu sudah banyak berubah sehingga acak-acakan,”Awalnya agak rapi susunnya, tapi berubah karena kena ombak, itu karena susunan batu besarnya jaraknya jarang-jarang mas, jadi gak kuat. Ditutupi pakai tanah juga kan tanahnya terbawa air dan seperti ini (banyak ronggo),” ungkapnya.

Pemecah ombak ini, lanjutnya, sangat berbeda dengan pemecah ombak di pantai Karya Tani.”Kayak gini (pemecah ombak) ada juga di Karya Tani, tapi bagus disana dan kuat, susunan batunya rapi gak ada tanah-tanahnya, dan rapet-rapet susunnya. Kalau inikan jarang-jarang jarak batunya. Kalau berapa biayanya kita masyarakat sini gak tau mas,” tutupnya.(Tim/Maryadi)

Header Banner Advertisement
Bagikan berita ini:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *