Gempa 7,2 SR Guncang Suoh, Masyarakat Berhamburan

Simulasi dalam rangka launching kabupaten tangguh bencana, Selasa (09/10/2018).

Harianpilar.com, Lampung Barat  – Ribuan warga kecamatan Bandar Negeri Suoh (BNS) dan Suoh berhamburan keluar akibat gempa berkekuatan 7,2 SR yang mengguncang wilayah tersebut, Selasa (09/10/2018).

Akibat guncangan gempa tersebut sejumlah warga dievakuasi oleh tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dengan dibantu tim Palang Merah Indonesi (PMI) dan TNI Polri karena terkena reruntuhan material bangunan bahkan ada yang tewas.

Nahasnya lagi kejadian tersebut terjadi dihadapan Bupati Lambar Parosil Mabsus dan jajarannya berikut ketua DPRD Lambar, Edi Novial, dan anggota dewan lainnya dan juga Direktur pengurangan resiko bencana dari BNPB RI, Radityo Jati.

“Ini hanya simulasi dalam rangka launching kabupaten tangguh bencana yang baru saja di kukuhkan oleh Pak bupati langsung,” Kata salah satu tim Satgas penanggulangan bencana kepada Kupastuntas.co di lokasi.

Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus menyerahkan surat keputusan bupati berupa SK Pembentukan Satgas Penanggulangan Bencana Pekon/Desa se-Kabupaten Lampung Barat, dan SK Tim Kerja dan Program Kerja 2018-2022.

Dilakukan pula penandatanganan komitmen bersama dukungan Kabupaten Lampung Barat sebagai Kabupaten Konservasi oleh organisasi perangkat daerah (OPD) dan Forkopimda plus.

Bersamaan acara itu, juga dilanjutkan dengan simulasi penanggulangan bencana dan penanaman bibit tanaman secara simbolis oleh Forkopimda dan OPD terkait.

Di Provinsi Lampung, salah satu daerah rawan bencana alam, khususnya gempa, adalah Kabupaten Lampung Barat.

Kabupaten ini sudah mempunyai komitmen untuk menjadi kabupaten tangguh bencana, karena memang berpotensi terjadi gempa bumi karena berada pada cincin gunung api dan patahan Semangka.

Gempa besar yang menimbulkan korban jiwa ratusan orang juga pernah terjadi di Liwa, Ibu Kota Lampung Barat pada 1994.

Mantan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Barat yang sekarang menjadi Ketua Bappeda daerah itu, Okmal, mendampingi Bupati setempat Parosil Mabsus menegaskan, saat ini masyarakat di Lampung Barat harus mengetahui mana saja jalur gempa itu.

Kemudian, di mana jalur evakuasi saat terjadi gempa dan bencana alam lainnya, tanda peringatan apa yang harus disampaikan.

Semua itu, menurut dia, harus disebarluaskan dan diinformasikan kepada masyarakat di sini. “Jadi tugas kita bersama untuk terus mengingatkan kewaspadaan menghadapi bencana alam itu terus menerus,” ujarnya.

Dia mengingatkan, menurut para ahli, gempa tidak bisa diprediksi kapan terjadi, dan saat terjadi gempa baru dapat diketahui di mana lokasinya dan kekuatannya. Karena itu, daerah rawan gempa di Lampung Barat dan wilayah lainnya harus siap untuk mengantisipasi dan menghadapinya.

Di Kabupaten Lampung Barat, Palang Merah Indonesia (PMI) setempat sedang menjalankan program membangun desa tangguh melalui pendekatan program Pengurangan Risiko Bencana Terpadu Berbasis Masyarakat yang sudah berlangsung selama satu tahun pada tiga pekon (kampung).

Ketiganya yaitu Pekon Ujung, Kecamatan Lumbok, Pekon Sukamarga, Kecamatan Suoh, dan Pekon Tuguratu, Kecamatan Suoh.

Sejumlah akademisi juga siap melakukan penelitian soal bangunan tahan gempa di Lampung Barat. Secara struktur geologi di Lampung Barat yang dijumpai dua buah sesar utama, yaitu sesar di bagian timur Kota Liwa (melalui Suoh, Sukarame dan Way Rebu sampai ke Danau Ranau) dan sesar yang melalui Kota Liwa (Suoh – kota Liwa – Pekonbalak). Kedua sesar ini berjarak 4 KM dan keduanya tergolong sebagai sesar aktif (bagian dari Sesar Besar Semangko).

Gempa di wilayah Kabupaten Lampung Barat terletak pada zona seismik dengan percepatan puncak 0,15-0,20 g (Beca Carter Holling & Ferner Ltd, 1980).

Berdasarkan peta isoseismik (BMG) terletak pada skala 5 – 6 MMI. Patahan utama yang terdapat di daerah ini adalah yang melintasi sepanjang Pulau Sumatera dikenal dengan patahan Semangko.

Aktivitas patahan ini mempengaruhi/mengancam kota/daerah yang kondisi tanahnya lunak dan lepas (endapan sungai, danau, pantai) atau tanah reklamasi.

Gempa yang terjadi di Lampung Barat pada 16 Februari 1994 dengan pusat gempa pada 5,4 derajat Lintang Selatan, 104,8 derajat Bujur Timur, dengan kerusakan VIII – IX skala MMI (BMG) telah mengakibatkan: retakan tanah (Ground Fracturing).

Retakan-retakan dijumpai di jalan antara Liwa – Sebarus; antara Padangdalam Sukarame dijumpai retakan tarik dengan lebar mencapai 20 cm; antara Liwa-Kota Batu (Danau Ranau), Liwa-Sekincau dan di daerah Suoh. Lebar retakan 30 cm, panjang 30 cm dan dalam 100 cm.

Retakan tersebut umumnya terjadi pada pasir dan tanah timbunan. Gempa itu juga menimbulkan sejumlah dampak lainnya pada bentang alam di daerah ini.
Mantan Kepala Stasiun Geofisika Kotabumi, Lampung Chrismanto juga mengingatkan perlu upaya terus menerus menyosialisasikan antisipasi menghadapi bencana alam khususnya gempa yang bisa saja terjadi setiap saat di Provinsi Lampung, terutama di Kabupaten Lampung Barat.

“Mari kita mengurangi korban jiwa akibat gempa, perbanyak sosialisasi di Lampung Barat ini yang saya selalu tekankan jangan menunggu gempa datang, tetapi bersiaplah sebelum gempa datang,” kata Chrismanto. (Mar/Lis)

Header Banner Advertisement
Bagikan berita ini:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *