Kasus Kematian Supir Bupati Lampura Masuk Babak Baru

Harianpilar.com, Lampung Utara  – Proses hukum kematian mantan supir Bupati Lampung Utara (nonaktif) Agung Ilmu Mangkunegara, Yogi Andhika, akan memasuki babak baru. Sebab, keluarga korban telah menyetujui dilakukan otopsi terhadap jasad Yogi Andhika.

Kuasa Hukum Keluarga almarhum Yogi Andhika mendatangi Kepolisian Resort (Polres) Lampura guna mengantarkan surat pernyataan persetujuan dari pihak keluarga korban terkait rencana otopsi oleh penyidik. Kuasa hukum keluarga Yogi, Rudi Hermanto, yang mewakili lawfirm Riza Hamim, SH dan Rekan, mengatakan bahwa persetujuan otopsi dimaksud guna memperoleh kepastian hukum dan kebenaran tentang adanya peristiwa pidana yang mengakibatkan meninggalnya Yogi Andhika, medio 15 Juli 2017 lalu.

“Bertindak untuk dan atas nama klien kami Fitria Hartati dengan ini kami perlu menyampaikan perkembangan penanganan perkara dugaan penganiaan terhadap Yogi,” pungkasnya.

Seperti diketahui, kematian Yogi Andika, mantan supir Bupati Lampung Utara (nonaktif) Agung Ilmu Mangkunegara masih terus diusut oleh Kepolisian Resort (Polres) Lampura. Namun, dari keterangan keluarganya diketahui tubuh Yogi Andhika penuh luka dan terdapat seperti bekas sundutan rokok. Tak heran jika desakan terdapat Polres Lampura untuk mengungkap kematian Yogi ini terus menguat.

Kasus Yogi ini telah dilaporkan oleh keluarganya ke Polres Lampura dengan nomor laporan polisi: LP/237/III/Polda Lampung/Spk T Res Lam Ut, tanggal 20 Maret 2018. Laporan tersebut langsung disampaikan Fitria Hartati (56) orang tua Yogi Andhika, warga Jalan Bunga Uli 4 No.24 Rt 008, Kelurahan Perum Way Kandis, KecamatanTanjung Senang, Bandarlampung.

Pada penjelasannya, Kuasa Hukum orang tua korban, Riza Hamim mengatakan bahwa semua masalah itu diserahkan kepada penegak hukum. “Saya mendampingi Fitria Hartati melaporkan kasus dugaan pengeroyokan dan penganiayaan yang mengakibatkan meninggalnya korban Yogi Andhika,” kata Riza Hamim.

Sementara itu, dari keterangan Fitria Hartati, kronologis singkat peristiwa tragis yang menimpa putranya, berawal sekitar 7 bulan lalu. “Ketika itu, anak saya Yogi Andhika pulang ke rumah dengan sekujur tubuh penuh luka dan memar. Kepala bagian belakangnya pecah, di punggungnya penuh dengan luka semacam sundutan api rokok. Bahkan ketika itu, anak saya sempat mengeluarkan muntah dengan darah yang mengental,” tutur dia.

Menurutnya, dengan perasaan yang hancur lebur dan penuh tanda tanya, dirinya bersama dengan keluarga mengantarkan almarhum Yogi Andhika ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek guna memberikan pertolongan pada anaknya tersebut. “Almarhum Yogi hanya mampu dirawat selama 5 hari. Karena kami tidak memiliki biaya untuk pengobatan, maka diputuskan untuk merawat almarhum di rumah. Meskipun pihak rumah sakit melarang karena kondisi almarhum Yogi saat itu sangat parah dan masih membutuhkan perawatan intensif,” ujarnya.

Saat Yogi Andhika dirawat di rumah, lanjutnya, Yogi mengaku sempat mengalami penganiayaan yang dilakukan sejumlah oknum. “Pada Rabu tanggal 26 April 2017,Yogi Andhika dituduh mengambil sejumlah uang, namun dikarenakan korban merasa tidak melakukan perbuatan tersebut dan korban takut karena diancam kemudian korban mengamankan diri,” terangnya.

Dari kejadian itu, korban dipancing untuk datang ke rumah AR di Bandarlampung karena dijanjikan pekerjaan. Setelah korban datang menemui AR, kemudian korban dijemput oleh 4 orang laki laki. Dua diantaranya yakni AND dan BOW, selama dalam perjalanan korban dianiaya bahkan sesampai di Lampung Utara korban masih mengalami penganiayaan.

Setelah mengalami luka berat kemudian korban dibawa ke Bandarlampung dan sesampainya di Jalan By Pass korban dibuang di pinggir jalan, setelah itu korban ditemukan warga dan dibawa ke Rumah Sakit Abdoel Moeloek. “Pada tanggal 15 Juli 2017 korban meninggal dunia di rumah sakit,” ungkapnya.

Yang lebih mengecewakan, sebelum Yogi Andhika menghembuskan nafas, pihak keluarga sangat terkejut bahwa almarhum dijadikan sayembara dan diberikan hadiah Rp5 juta bagi yang menemukan. Pada kasus ini, lantas keluargapun berharap aparat kepolisian dapat mengusut tuntas pelaku dan dalang dibalik terbunuhnya Yogi Andhika.

Selain itu, keluarga besar juga berniat mengirimkan surat kepada Mabes Polri dan Presiden meminta pengusutan kasus ini serta dibuka lebar kepada masyarakat. Di lain pihak, Polres Lampung Utara (Lampura) saat ini mulai melakukan penyelidikan untuk mengungkap kematian Yogi Andika (32). “Ya, kami sudah mendapatkan laporan dari Fitri ibu korban. Dia didampingi kuasa hukumnya, selanjutnya atas laporan tersebut kami mulai melakukan penyelidikan,” ujar Kapolres Lampung Utara AKBP Eka Mulyana, kepada sejumlah wartawan, Rabu (21/3/2018) lalu.

Eka menyampaikan, dalam perkara ini, pihaknya juga akan membentuk tim guna melakukan penyelidikan secara mendalam. Mengingat peristiwa yang dilaporkan itu terjadi sekitar 7 bulan lalu.

“Kami tidak mau gegabah untuk menentukan siapa pelaku maupun dalangnya, karena kejadian ini sudah lumayan lama, sedangkan baru dilaporkan kemarin,” kata dia.

Dalam penyelidikan kasus ini, lanjutnya, tentu memakan waktu lama. Sebab, pihaknya sudah menerima laporan peristiwa pembunuhan, tetapi tidak memiliki saksi apalagi tersangkanya belum ada.

“Untuk itu, kami akan mendalami dulu sejauh mana kebenaran peristiwa tersebut,” papar dia.(Tim/Maryadi)

Header Banner Advertisement
Bagikan berita ini:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *