Kematian Mantan Supir Bupati Lampura. KontraS : Ungkap Aktor Intelektualnya

Harianpilar.com, Bandarlampung – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) mendesak Kapolres Lampung Utara (Lampura) AKBP Eka Mulyana mengungkap kematian mantan supir Bupati Lampung Utara (nonaktif) Agung Ilmu Mangkunegara. Desakan itu dilayangkan KontraS melalui surat nomor 95/SK-KontraS/IV/2018 terkait Desakan Tindaklanjut Laporan Polisi Nomor LP237/III/Polda Lampung/SPKT Res Lam Ut tertanggal 20 Maret 2018.

Menurut KontraS, sebelum pihaknya mendesak agar aktor intelektual kasus yang diduga pembunuhan ini dilakukan, laporan pengaduan telah lebih dulu masuk dengan permohonan agar kematian Alm Yogi Andhika diusut tuntas.“Sebelum terjadi penganiayaan terhadap korban, pada April 2017 korban pernah dituduh melakukan pencurian sejumlah uang milik atasannya. Namun karena korban merasa tidak melakukan pencurian sebagaimana dituduhkan, serta adanya ancaman-ancaman terhadap korban karena tuduhan atas kasus pencurian tersebut korban akhirnya pergi meninggalkan pekerjaan dan atasanya,” demikian penjelasan Wakil Koordinator Bidang Advokasi KontraS, Putri Kanesia,SH. melalui surat tersebut.

Pada Juli 2017, lanjutnya, korban dihubungi melalui pesan singkat oleh rekanya bernama Arnold dengan iming-iming akan memberi Yogi pekerjaan. Setelah mendengar tawaran itu, korban tertarik lalu menemui rekannya di kediamannya yang ternyata sudah ditunggu oleh sejumlah orang yang diduga melakukan penjemputan paksa terhadapnya.

Kasus Yogi ini pun akhirnya terendus oleh media yang prihatin terhadap duka keluarga yang kian mendalam akibat kehilangan anggota keluarga seolah nyawa Yogi yang bekerja pada atasannya itu tidak ada sikap empati sehingga keluarga merasa janggal dan akhirnya minta penegak hukum mengusut tuntas, hingga sampai ke KontraS.

Di Lampung, aksi massa sebagai desakan terhadap pihak kepolisian juga terus bergulir agar kasus ini terungkap, tidak hanya ditujukan kepada Kapolres Lampung Utara, juga ditujukan kepada Kapolda Lampung Irjen (Pol) Suntana sebagai pemimpin tertinggi polisi di wilayah Lampung.

“Terkait dengan informasi sebagaimana disampaikan oleh perwakilan masyarakat Lampung Utara, untuk itu KontraS mendesak Kapolres Lampung Utara agar segera mengusut tuntas dan menindaklanjuti serta mencari motif utama dibalik peristiwa penganiayaan yang mengakibatkan meninggalnya korban. Kami juga mendesak agar seluruh proses penyelidikan dan penyidikan dilakukan secara transparan dan akuntabel, mengingat hal tersebut penting dilakukan guna memberi rasa keadilan dan kepastian hukum bagi keluarga korban,” pungkasnya.

Sementara, Bupati Lampura (nonaktif) Agung Ilmu Mangkunegara, hingga kini belum berhasil dimintai tanggapan terkait kematian mantan supirnya itu.

Diberitakan sebelumnya, Kasus Yogi ini telah dilaporkan oleh keluarganya ke Polres Lampura dengan nomor laporan polisi: LP/237/III/Polda Lampung/Spk T Res Lam Ut, tanggal 20 Maret 2018. Laporan tersebut langsung disampaikan Fitria Hartati (56) orang tua Yogi Andhika, warga Jalan Bunga Uli 4 No.24 Rt 008, Kelurahan Perum Way Kandis, KecamatanTanjung Senang, Bandarlampung.

Pada penjelasannya, Kuasa Hukum orang tua korban, Riza Hamim mengatakan bahwa semua masalah itu diserahkan kepada penegak hukum. “Saya mendampingi Fitria Hartati melaporkan kasus dugaan pengeroyokan dan penganiayaan yang mengakibatkan meninggalnya korban Yogi Andhika,” kata Riza Hamim.

Sementara itu, dari keterangan Fitria Hartati, kronologis singkat peristiwa tragis yang menimpa putranya, berawal sekitar 7 bulan lalu. “Ketika itu, anak saya Yogi Andhika pulang ke rumah dengan sekujur tubuh penuh luka dan memar. Kepala bagian belakangnya pecah, di punggungnya penuh dengan luka semacam sundutan api rokok. Bahkan ketika itu, anak saya sempat mengeluarkan muntah dengan darah yang mengental,” tutur dia.

Menurutnya, dengan perasaan yang hancur lebur dan penuh tanda tanya, dirinya bersama dengan keluarga mengantarkan almarhum Yogi Andhika ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek guna memberikan pertolongan pada anaknya tersebut. “Almarhum Yogi hanya mampu dirawat selama 5 hari. Karena kami tidak memiliki biaya untuk pengobatan, maka diputuskan untuk merawat almarhum di rumah. Meskipun pihak rumah sakit melarang karena kondisi almarhum Yogi saat itu sangat parah dan masih membutuhkan perawatan intensif,” ujarnya.

Saat Yogi Andhika dirawat di rumah, lanjutnya, Yogi mengaku sempat mengalami penganiayaan yang dilakukan sejumlah oknum. “Pada Rabu tanggal 26 April 2017,Yogi Andhika dituduh mengambil sejumlah uang, namun dikarenakan korban merasa tidak melakukan perbuatan tersebut dan korban takut karena diancam kemudian korban mengamankan diri,” terangnya.

Dari kejadian itu, korban dipancing untuk datang ke rumah AR di Bandarlampung karena dijanjikan pekerjaan. Setelah korban datang menemui AR, kemudian korban dijemput oleh 4 orang laki laki. Dua diantaranya yakni AND dan BOW, selama dalam perjalanan korban dianiaya bahkan sesampai di Lampung Utara korban masih mengalami penganiayaan.

Setelah mengalami luka berat kemudian korban dibawa ke Bandarlampung dan sesampainya di Jalan By Pass korban dibuang di pinggir jalan, setelah itu korban ditemukan warga dan dibawa ke Rumah Sakit Abdoel Moeloek. “Pada tanggal 15 Juli 2017 korban meninggal dunia di rumah sakit,” ungkapnya.

Yang lebih mengecewakan, sebelum Yogi Andhika menghembuskan nafas, pihak keluarga sangat terkejut bahwa almarhum dijadikan sayembara dan diberikan hadiah Rp5 juta bagi yang menemukan. Pada kasus ini, lantas keluargapun berharap aparat kepolisian dapat mengusut tuntas pelaku dan dalang dibalik terbunuhnya Yogi Andhika.

Selain itu, keluarga besar juga berniat mengirimkan surat kepada Mabes Polri dan Presiden meminta pengusutan kasus ini serta dibuka lebar kepada masyarakat. Di lain pihak, Polres Lampung Utara (Lampura) saat ini mulai melakukan penyelidikan untuk mengungkap kematian Yogi Andika (32). “Ya, kami sudah mendapatkan laporan dari Fitri ibu korban. Dia didampingi kuasa hukumnya, selanjutnya atas laporan tersebut kami mulai melakukan penyelidikan,” ujar Kapolres Lampung Utara AKBP Eka Mulyana, kepada sejumlah wartawan, Rabu (21/3/2018) lalu.

Eka menyampaikan, dalam perkara ini, pihaknya juga akan membentuk tim guna melakukan penyelidikan secara mendalam. Mengingat peristiwa yang dilaporkan itu terjadi sekitar 7 bulan lalu.

“Kami tidak mau gegabah untuk menentukan siapa pelaku maupun dalangnya, karena kejadian ini sudah lumayan lama, sedangkan baru dilaporkan kemarin,” kata dia.

Dalam penyelidikan kasus ini, lanjutnya, tentu memakan waktu lama. Sebab, pihaknya sudah menerima laporan peristiwa pembunuhan, tetapi tidak memiliki saksi apalagi tersangkanya belum ada.

“Untuk itu, kami akan mendalami dulu sejauh mana kebenaran peristiwa tersebut,” papar dia.(Tim/Maryadi)

Header Banner Advertisement
Bagikan berita ini:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *