Usut Dalang Kematian Supir Agung Ilmu Mangkunegara. ‘Uji Nyali’ Kapolres Lampura

Ilustrasi

Harianpilar.com, Bandarlampung – Kasus kematian supir Bupati Lampung Utara (nonaktif) Agung Ilmu Mangkunegara, Yogi Andhika nampaknya bakal menjadi ajang ‘uji nyali’ bagi Kapolres Lampura AKBP. Eka Mulyana,.S.I.K. Sebab, Kepolisian Resort (Polres) Lampura didesak mengungkap pelaku dan dalang dibalik kematian supir malang tersebut.

Pengamat Hukum Universitas Lampung, DR. Yusdianto, mengatakan, Polres Lampura harus menjadikan kasus kematian Yogi itu sebagai prioritas. Sebab masalah itu menyangkut nyawa manusia.”Kapolres Lampura harus menjadikan kasus itu sebagai prioritas. Harus diungkap siapa saja pelakunya, apakah ada dalangnya, dan apa motifnya. Semua harus di usut. Itu menyangkut nyawa manusia,” tegasnya pada Harian Pilar, Minggu (25/3/2018).

Menurutnya, kepolisian harus bergerak cepat melakukan penyelidikan dan mengungkap semua fakta serta barang bukti yang ada. “Semua fakta dan bukti harus diungkap. Sehingga bisa diketahui siapa yang paling bertanggungjawab dalam kematian Yogi itu,” tandasnya.

Yusdianto juga menyarankan agar dilakukan otopsi ulang guna memastikan penyebab kematian Yogi.”Bila diperlukan, lakukan otopsi ulang biar diketahui pasti penyebab kematian Yogi,” pungkasnya.

Sementara, hingga kini Bupati Lampura nonaktif, Agung Ilmu Mangkunegara hingga berita ini diturunkan belum juga berhasil dikonfirmasi terkait kematian supirnya itu.

Diberitakan sebelumnya, kematian Yogi Andhika bin Rosyid pada 15 Juli 2017 silam menyimpan sebuah misteri besar. Almarhum merupakan sopir pribadi Bupati Lampung Utara (Lampura) nonaktif Agung Ilmu Mangkunegara.

Ibunda kandung Yogi Andhika, FH (53), warga Kecamatan Tanjung Seneng Bandarlampung, didampingi keluarga dan Kuasa Hukumnya, Riza Hamim, SH & Rekan, mendatangi Mapolrest Lampung Utara, pada Selasa, (20/3/2018), sekira pukul 13.00 WIB, guna memberikan aduan.

“Peristiwa nahas itu terjadi sekitar 7 (tujuh) bulan yang lampau. Ketika itu, anak saya Yogi Andhika pulang ke rumah dengan sekujur tubuh penuh luka dan memar. Kepala bagian belakangnya pecah. Di punggungnya penuh dengan luka semacam sundutan api rokok. Bahkan ketika itu, anak saya sempat mengeluarkan muntah dengan darah yang mengental,” tutur FH, seperti dilansir sinarlampung.com.

Menurutnya, sebelum wafat oleh keluarganya Yogi sempat di larikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek agar mendapat pertolongan.

“Almarhum Yogi hanya mampu dirawat selama 5 (lima) hari. Karena kami tidak memiliki biaya untuk pengobatan, maka diputuskan untuk merawat almarhum di rumah. Meskipun pihak rumah sakit melarang karena kondisi almarhum Yogi saat itu sangat parah dan masih membutuhkan perawatan intensif,” ujar FH.

FH menjelaskan, saat dirawat di rumah Yogi sempat bercerita jika dirinya mengalami penganiayaan oleh sejumlah orang.

Keluarga korban lainnya, Li,membenarkan sebelum wafat, almarhum Yogi Andhika sempat menuturkan berbagai peristiwa tragis yang dialaminya hingga dia dirawat, dan akhirnya meninggal.

Peristiwa tragis yang dialami Yogi, bermula dari hilangnya sejumlah uang yang diperintahkan majikannya untuk diantar ke rumah di Ketapang Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara.

“Andik (panggilan akrab Yogi Andhika) diperintahkan untuk mengantarkan uang sejumlah Rp25 juta,-. Sebelum dia menuju ke rumah itu, dia menyempatkan diri untuk mandi di mess sopir pribadi. Sementara, uang tersebut berada di dalam mobil dengan kondisi pintu tertutup,” tutur Li seperti dilansir Sinarlampung.

Usai mandi, almarhum kaget melihat pintu mobil yang terparkir sudah dalam kondisi terbuka. “Merasa khawatir ada sesuatu yang terjadi, almarhum lantas memeriksa keberadaan uang senilai Rp25 juta yang hendak diantarnya. Kekhawatirannya terbukti. Uang tersebut raib dari dalam mobil. Sementara, pintu-pintu mobil tidak ada yang rusak,” urai Li.

Karena diliputi perasaan takut, almarhum Yogi Andhika lantas pergi begitu saja ke Bandarlampung dan menceritakan peristiwa tidak menyenangkan tersebut pada keluarga. “Ketika itu, saya mendesaknya apakah dia dengan sengaja menghilangkan uang tersebut. Namun, almarhum tetap bersikeras bahwa dia tidak melakukannya,” ujar Li.

Mendapati pengakuan Yogi, keluarga merasa bakal ada ancaman besar yang mengintai Yogi Andhika. “Kami memutuskan agar almarhum untuk sementara waktu bersembunyi. Kami mengungsikan almarhum ke rumah paman di Sukabumi, Jawa Barat sambil mencari solusi untuk mengatasi hal ini,” tutur Li melinangkan air mata. (Ramona/Tim/Maryadi)

Header Banner Advertisement
Bagikan berita ini:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *