Proyek Dinas Pengairan dan Pemukiman Diduga Bermasalah Gubernur Didesak ‘Copot’ Edarwan

Harianpilar.com, Bandarlampung – Terbongkarnya proyek milik Dinas Pengairan dan Pemukiman Provinsi Lampung tahun 2016 dan 2017 bernilai puluhan miliar namun kini kondisinya sudah mengalami kerusakan perlu di sikapi secara serius. Gubernur Lampung M Ridho Ficardo didesak melakukan evaluasi, dan jika di perlukan melakukan penyenggaran dengan mencopot kepala Dinas Pengairan dan Pemukiman Lampung Edarwan.

Proyek 2016 yang disinyalir bermasalah itu adalah proyek Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I. Way Kalipasir senilai Rp20 Miliar yang dikerjakan PT. Wukir Dirada Meta, dan proyek Rehabilitasi / Pemeliharaan Jaringan Irigasi D.I Way Kalipasir tahun 2017 senilai Rp10,4 Miliar yang dikerjakan oleh PT.Mutiara Bintang Selatan.

“Seharusnya dengan anggaran mencapai Rp20 Miliar itu kondisi proyek itu dalam kondisi baik, apa lagi tahun 2016 artinya baru hitungan beberapa bulan. Jika proyek tahun 2016 dengan nilai besar tapi saat ini sudah mengalami kerusakan maka kualitasnya perlu di pertanyakan, dan kualitas yang meragukan itu patut diduga akibat pengerjaan yang tidak sesuai ketentuan,” ujar Tim Kerja Institute on Corruption Studies (ICS), Apriza, saat di mintai tanggapannya, Rabu (22/11/2017).

Menurutnya, terkuaknya proyek tahun 2016 dan 2017 bernilai puluhan miliar namun kondisinya sudah rusak, mengindikasikan kinerja dinas terkait perlu pembenahan dan perlu di evaluasi oleh pimpinan daerah.”Saya kira Gubernur Lampung harus mengevaluasi jajaran Dinas Pengairan dan Pemukiman, bila perlu copot kepala dinasnya dan lakukan penyegaran. Sehingga persoalan yang terjadi pada proyek bernilai puluhan miliar itu tidak terus terulang,” cetusnya.

Sementara,Kepala Dinas Pengairan dan Pemukiman Provinsi Lampung, Edarwan, hingga berita ini di turunkan belum berhasil dikonfirmasi. Berulang kalidihubungi, ponselnya selalu dalam keadaan tidak aktif.

Diberitakan sebelumnya, proyek milik Dinas Pengairan dan Pemukiman Provinsi Lampung tahun 2016 dan 2017 bernilai puluhan miliar diduga kuat sarat penyimpangan. ‘Borok’ proyek itu terlihat dari kondisi proyek yang sudah mengalami kerusakan yang disinyalir akibat pengerjaan yang tidak sesuai ketentuan.

Proyek 2016 yang disinyalir bermasalah itu adalah proyek Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I. Way Kalipasir senilai Rp20 Miliar yang dikerjakan PT. Wukir Dirada Meta. Kini kondisi proyek ini sudah mengalami kerusakan, banyak bagian Irigasinya yang sudah ambrol, retak, dan menglupas. Buruknya kualitas proyek ini di sinyalir akibat pengerjaan dan penggunaan material yang tidak sesuai ketentuan.

Selain itu, pengawasan proyek ini juga disinyalir tidak maksimal.Padahal untuk pengawasannya saja proyek ini menelan anggaran Rp540 juta yang di kerjakan oleh CV. Piramida Engineering Consultant.

Kondisi serupa juga ditemukan pada proyek tahun 2017 di aliran sungai yang sama yakni Way Kalipasir Rumbia Lampung Tengah. Ditahun 2017 Rehabilitasi / Pemeliharaan Jaringan Irigasi D.I Way Kalipasir ini menelan anggaran Rp10,4 Miliar dikerjakan oleh PT.Mutiara Bintang Selatan. Meski baru selesai dikerjakan sekitar sebulan lalu, namun kondisi proyek ini sudah terlihat mengalami retak-retak. (Maryadi)

Header Banner Advertisement
Bagikan berita ini:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *