RSUD Pringsewu Bantah Proyek Bermasalah

Ilustrasi

Harianpilar.com, Bandarlampung – Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Pringsewu membantah dugaan penyimpangan sejumlah proyek tahun 2016. RSUD Pringsewu mengirim surat klarifikasi nomor 445/651/LT.10/2017 ke Redaksi Harian Pilar, dalam surat yang di tandatangani Direktur RSUD Pringsewu dr.Ulinnoha itu disebutkan sehubung dengan pemberitaan di Harian Pilar sebagaimana tertulis, membongkar ,borok ‘RSUD Pringsewu (1 september 2017), proyek RSUD pringsewu berlumur dugaan ’KKN berjamaah(11 september 2017) proyek RSUD pringsewu “berpotensi” rugikan Negara (12 september 2017),dapat kamiklarifikasa bahwa terdapat kekeliruan pada konten berita tersebut.

Pertama tidak benar, bahwa pengadaan jalan lingkungan, pemasangan keramik selasar UGD kelas 111, rehab keramik ICU, rehab kelas 111, tidak sesuai pengadaan karena di audit oleh BPK pada tanggal 23 mei 2017, Inspektorat Kabupaten Pringsewu 31 Desember 2016, kantor akutan public (auditor eksternal) 24 Agustus 2016, yang hasilnya tidak ditemukan kerugian Negara akibat pekerjaan yang dilakuan seperti yang diberitakan oleh Harian Pilar.

Kedua tidak benar kegiatan belanja modal pembangunan garasi mobil ambulan,senilai 39 juta sumber dana BLUD adalah fiktif. Karena kegiatan tersebut hanya ada di RUP dan belum dilaksanakan karena keterbatasan dana BLUD RSUD Pringsewu. Keempat sama sekali tidak ada konfirmasi kepada pihak RSUD Pringsewu dalam pemberitaan ini.

Diberitakan sebelumnya, Pergeseran sistem penggunaan dana di RSUD ke Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) nampaknya justru memberi ruang terjadinya penyimpangan.Hal ini terlihat dari perealisasian sejumlah proyek milik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Pringsewu tahun 2016 yang diduga kuat sarat penyimpangan. ‘Borok’ RSUD Pringsewu itu terlihat dari pengerjaan proyek yang terindikasi tidak sesuai ketentuan hingga adanya indikasi fiktif.

Berdasarkan dokumen yang di peroleh Harian Pilar, pada tahun 2016 terdapat puluhan mata anggaran RSUD Pringsewu dengan sumber dana Badan Layanana Umum Daerah (BLUD) dan APBD. Namun, dalam pelaksanaannya kuat dugaan sarat penyimpangan yang mengarah kedugaan korupsi bahkan ada yang terindikasi fiktif.

Beberapa proyek RSUD Pringsewu yang diduga kuat bermasalah diantaranya Pengadaan Jalan Lingkungan dalam Areal Rumah Sakit (RSUD Pringsewu) senilai Rp1,2 Miliar sumber dana APBD, belanja modal Garasi Mobil Ambulance senilai Rp39 juta sumber dana BLUD, Rehabilitasi Keramik ICU senilai Rp67 Juta sumber dana BLUD, Konstruksi Selasar dari UGD ke Gedung Kelas III senilai Rp137 juta sumber dana BLUD, Rehab Gedung Kelas III senilai Rp182 juta.

Kuat dugaan pengerjaan proyek-proyek ini sarat penyimpangan. Seperti proyek pembangunan jalan lingkungan RSUD senilai Rp1,2 Miliar, jalan lingkungan ini dibuat paving blok sekeliling RSUD dengan mutu yang meragukan. Sebab banyak paving blok jalan lingkungan ini yang sudah pecah. “Seharusnya Paving blok jalan lingkungan RSUD itu menggunakan paving pres yang harganya sekitar Rp220ribu, tapi yang di pasang justru paving ketok biasa yang harganya dibawah 100ribu,” ujar sumber Harian Pilar yang mewanti-wanti agar namanya tidak di tulis, Kamis (7/9/2017).

Menurutnya, di awal perencanaan bentuk paving itu juga segi enam, namun pelaksanaan menggunakan bentuk persegi panjang atau segi empat saja,”Melihat perubahan ini diduga ada tujuan untuk mengurangi kualitas paving,” cetusnya.

Seharusnya, lanjutnya, dengan anggaran Rp1,2 miliar itu bisa menghasilkan jalan lingkungan yang baik dan dengan kualitas paving yang baik juga.”Jika dilihat dengan kondisi kualitas paving yang jelek seperti itu maka diyakini anggaran paving tersebut ada indikasi korupsi, bahkan ada kesengajaan yang dilakukan rekanan dan pihak RSUD,” ungkapnya.

Proyek RSUD Pringsewu lainnya juga terindikasi sarat penyimpangan. Seperti proyek Garasi Mobil Ambulance senilai Rp39 juta, hingga saat ini tidak terlihat adanya bangunan garasi Ambulance di RSUD Prinsgewu.Sebab, kenderaan Ambluance RSUD Prinsgewu terparkir bukan di garasi. Begitu juga proyek Rehabilitasi Keramik ICU senilai Rp67Juta kini kondisi keramiknya justru sudah banyak yang pecah dan retak.

Kondisi serupa juga di temukan pada proyek Konstruksi Selasar dari UGD ke Gedung Kelas III senilai Rp137 juta yang terindikasi di kerjakan asal-asalan. Begitu juga proyek Rehab Gedung Kelas III senilai Rp182 juta, meski menghabiskan dana ratusan juta ternyata kondisi Gedung Kelas III nampak seperti tidak pernah di rehab. Sebab kondisi tetap seperti tidak terawat dan tidak ada perubahan.(Maryadi)

Header Banner Advertisement
Bagikan berita ini:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *