oleh

Pembunuh Sadis Ustad Sanusi Ditangkap

Harianpilar.com, Tanggamus – Ahmad Ronjoli (38) warga Dusun Sukanegeri, Pekon Ampai, Limau, yang diduga pelaku pembunuh ustadz Ahmad Sanusi (40) pada Minggu (5/7/2015) lalu, akhirnya berhasil ditangkap  Satreskrim Polres Tanggamus bersama Unit Reskrim Polsek Limau, Senin (6/7/2015) pagi.

Kapolres Tanggamus AKBP Dedi Supriyadi, melalui Kasatreskrim AKP Samsuri mengatakan, pembunuhan sadis tersebut berlangsung Minggu (5/7/2015) petang. Lantaran korban tak kunjung pulang ke rumahnya yang masih satu desa dengan tersangka, akhirnya keluarga dan kerabat berinisiatif untuk menyusul ke kebun.

“Begitu keluarga korban tiba di tempat kejadian perkara (TKP), ternyata korban sudah tidak bernyawa, bersimbah darah, dan kondisinya mengenaskan. Polsek Limau lantas menerima laporan dan terjun ke lokasi. Dari hasil pengembangan di TKP, ada salah seorang saksi mata yang melihat, bahwa tersangka terakhir kali terlihat meninggalkan TKP sambil membawa golok sepanjang 50 cm,” terang Samsuri di ruangannya, Senin (6/7/2015) sore.

Aparat Polsek Limau langsung berkoordinasi dengan Satreskrim untuk memburu tersangka. Setelah pengejaran dari Minggu malam, akhirnya kemarin pagi tersangka berhasil ditangkap. Saat dikejar petugas, tersangka yang terkadang tampak linglung itu bersembunyi dalam kamar di salah satu rumah warga.

Kapolsek Limau Iptu. Hari membenarkan, setelah menghabisi nyawa tetangganya dengan bacokan yang membabi buta, tersangka langsung kabur. Selama dalam pengejaran petugas, tersangka yang membawa golok itu bertindak brutal dan mengancam akan membacok siapapun yang ditemuinya.

“Jelas tersangka yang demikian tidak bisa dibiarkan berkeliaran. Sebab sudah pasti membahayakan nyawa orang lain yang dia temui. Sebelum jatuh korban lain, maka tersangka kami kejar dan tadi (kemarin, Red) pagi berhasil kami tangkap, setelah semalaman kejar-kejaran dengan kami,” beber Hari.

Ironisnya, apa motif tersangka membacok korban dengan brutal, tidak jelas. Dari pengakuan tersangka, dia bertemu dengan korban di perkebunan cengkeh. Sesaat sebelum bertemu korban, tersangka menemukan sebilah golok panjang di sebuah gubug.

“Saat itu dia (korban, Red) sedang memetik cengkeh. Saya kira dia pencuri dan saya hampiri sambil bawa golok itu. Dia lari, ya saya kejar. Pohon cengkeh itu nggak tahu punya siapa. Tapi bukan punya saya juga,” tutur tersangka dalam kondisi kedua tangan terborgol seraya menggenggam erat sehelai kain lap kumal di tangan kanan dan sebuah bangkai jam tangan di tangan kiri.

Belakangan diketahui, tersangka diduga mengalami gangguan jiwa kambuhan. Namun Samsuri menegaskan, wewenangnya adalah memeriksa tersangka. Jika nanti dalam proses pemeriksaan ternyata didapati dia mengalami gangguan jiwa, baru akan dibawa ke rumah sakit jiwa (RSJ) untuk mengetahui hasilnya.

“Sejauh ini, tersangka jujur menceritakan perbuatannya. Kawan-kawan jurnalis juga lihat sendiri kan, dari dia datang tadi sampai sekarang, semua pertanyaan saya dia jawab dengan baik. Belum ada tanda-tanda gangguan psikologisnya. Kalau nanti dalam proses gejala gangguan jiwa itu muncul, akan kami koordinasikan dengan RSJ Kurungannyawa, Pesawaran,” terang Kasatreskrim.

Dari keterangan dan dokumentasi Tim INAFIS Polres Tanggamus, luka bacok korban di sekujur tubuh, mulai dari kepala hingga kaki. Leher nyaris putus akibat digorok. Kaki kanan hanya tinggal kulit yang melekat. Luka sayatan cukup dalam pada dada, perut, punggung, tangan, dan paha. Barang bukti (BB) yang berhasil diamankan adalah sebilah golok dan pakaian korban yang penuh darah.

“Sementara ini kami akan menerapkan Pasal 338 KUHAP. Soal kondisi kejiwaannya, ya kita lihat sembari jalan nanti. Tadi sempat saya tanyai, apakah dia menyesal sudah membunuh korban. Dia jawab sangat-sangat menyesal,” pungkas Samsuri. (Imron/Juanda)

Komentar